Sebagai perempuan yang berkarier di dunia teknologi dan aktif di organisasi seperti KADIN dan IWAPI, saya sering mendapat pertanyaan seperti ini:
“Kenapa sih perempuan harus terjun ke dunia IT?”
“Organisasi? Bukannya udah sibuk ngajar dan ngurus bisnis?”
Jawaban saya sederhana:
Karena dunia ini terlalu penting untuk dibiarkan hanya diputuskan oleh satu jenis suara. Dunia IT dan organisasi bukan hanya soal karier, tapi soal membangun masa depan yang inklusif, cerdas, dan manusiawi.
Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi alasan kenapa perempuan perlu aktif di dunia teknologi dan organisasi, bukan hanya sebagai partisipan, tapi juga sebagai pengambil keputusan.
Dunia Teknologi Butuh Perspektif Perempuan
Teknologi hari ini mengatur hampir semua aspek kehidupan: dari cara kita bekerja, belajar, hingga mengakses layanan kesehatan. Tapi jika hanya laki-laki yang duduk di balik algoritma dan sistem, maka kebutuhan dan perspektif perempuan sering terabaikan.
Contoh nyata:
- Aplikasi kesehatan yang tidak mempertimbangkan siklus perempuan.
- Fitur keamanan digital yang tidak cukup peka terhadap kekerasan berbasis gender.
Dengan hadirnya perempuan di meja pengambil keputusan teknologi, solusi yang dihasilkan jadi lebih inklusif dan manusiawi.
Organisasi Adalah Sarana Pengaruh Positif, Bukan Cuma Rapat
Sebagian orang mengira organisasi hanyalah urusan seremonial atau rapat-rapat tanpa hasil. Tapi kenyataannya, organisasi adalah saluran pengaruh yang nyata:
- Di KADIN, saya bisa menyuarakan kebutuhan software house lokal dan perempuan di industri IT.
- Di IWAPI, saya bertemu perempuan dari berbagai latar belakang yang saling menguatkan dan belajar tumbuh bersama.
Perempuan tidak cukup hanya bekerja keras — kita juga perlu punya panggung untuk membentuk arah perubahan.
Perempuan Punya Kekuatan Unik: Empati, Ketekunan, dan Sistem Berpikir
Dunia IT sering dilihat sebagai dunia “keras” dan penuh logika. Tapi kenyataannya, keberhasilan proyek teknologi sangat bergantung pada:
- Komunikasi yang empatik
- Ketelitian
- Kemampuan memahami sistem secara holistik
Dan perempuan terbukti punya semua itu.
Saat kita hadir bukan untuk “menjadi seperti laki-laki”, tapi membawa keunikan kita, dunia teknologi justru jadi lebih seimbang dan efektif.
Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?
Banyak perempuan muda yang masih merasa:
- “IT itu bukan untuk aku”
- “Aku nggak cukup pintar buat coding”
- “Aku nggak cocok bicara di forum organisasi”
Tapi jika kita yang sudah ada di dalamnya tidak bersuara, siapa yang akan membuka jalan dan memberi inspirasi?
Setiap langkah kita — sekecil apa pun — bisa jadi obor bagi perempuan lain.
Aktif Bukan Berarti Harus Sempurna
Saya seorang ibu, dosen, entrepreneur, dan pengurus organisasi. Tidak semuanya selalu seimbang, dan tidak semuanya sempurna. Tapi saya percaya satu hal:
“Perempuan tidak harus memilih antara keluarga, karier, atau kontribusi sosial. Kita bisa hadir dengan versi terbaik kita, di ruang-ruang yang membutuhkan suara kita.”
Jadi, kalau kamu perempuan dan masih ragu untuk masuk ke dunia IT atau organisasi, pesan saya:
Just try. Suara kamu penting. Kehadiranmu dibutuhkan.
Leave a Reply