Karena terkadang, kelelahan bukan tanda kelemahan, melainkan isyarat bahwa kita pernah memberi begitu banyak…
Pagi itu tampak biasa. Matahari naik perlahan, kopi di meja mulai mendingin, dan rumah dalam keadaan tenang. Anak-anak saya kini telah tumbuh dewasa, tak lagi membutuhkan perhatian penuh seperti dulu. Tak ada suara tergesa di pagi hari, tak ada daftar tugas mendesak yang harus diselesaikan demi mereka. Semuanya terasa hening. Tapi justru di keheningan itu, saya merasa lelah, lelah yang datang bukan dari pekerjaan rumah, melainkan dari notifikasi grup organisasi yang hampir selalu ada update terbaru.
Grup diskusi, rapat koordinasi, menghadiri audiensi, agenda mendadak semuanya datang bertubi-tubi. Padahal dulu saya mengisi peran dalam organisasi ini dengan penuh semangat. Saya percaya pada visi yang dibawa, saya bangga bisa berkontribusi, dan saya senang bisa menjadi bagian dari barisan perempuan yang bergerak untuk kebaikan bersama. Tapi entah sejak kapan, saya mulai kehilangan energi untuk sekadar membuka pesan grup. Ada perasaan enggan, letih, dan jenuh yang sulit saya tolak.
Kelelahan ini bukan karena organisasi terlalu berat, melainkan karena saya merasa menuntut terlalu banyak dari diri sendiri. Menuntut untuk selalu siap hadir, selalu mampu memediasi, selalu sabar, selalu memberi solusi. Sebagai perempuan yang pernah aktif membesarkan anak-anak, menjalankan bisnis, menjadi dosen, melanjutkan sekolah dan kini terlibat dalam organisasi yang beranggotakan perempuan dengan karakter dan latar belakang yang sangat beragam, saya terbiasa memikul banyak peran. Tapi saya lupa bahwa saya juga manusia, bukan mesin.
Berorganisasi bersama sesama perempuan ternyata bukan hanya soal program dan agenda. Ada dinamika emosional yang rumit, ada gesekan kecil yang kadang tak disadari, ada luka-luka halus yang kadang tak terucap. Terkadang niat baik disalahpahami, terkadang kata-kata yang jujur dianggap menyudutkan. Sebagai pemimpin, saya pernah merasa bingung harus berada di mana saat dua pihak yang saya sayangi bersilang paham. Sebagai sahabat, saya pernah merasa kehilangan kedekatan karena perbedaan pendapat. Dan sebagai perempuan, saya pernah merasa sendirian di tengah banyaknya orang.
Saat itu saya tahu, saya butuh berhenti sejenak. Bukan untuk mundur, tapi untuk pulih. Saya mulai memberi ruang untuk diri sendiri. Menolak dengan sopan, membatasi keterlibatan, dan membiarkan diri saya bernapas tanpa rasa bersalah. Saya kembali menata niat, menengok kembali alasan saya dulu bergabung. Saya ingin berbagi, bukan bersaing. Saya ingin bertumbuh, bukan terbebani.
Dalam proses jeda itu, saya menemukan makna baru. Organisasi bukanlah panggung. Ia bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling aktif, paling vokal, atau paling kuat. Organisasi, sejatinya, adalah rumah dan tempat kita saling belajar, saling menguatkan, dan saling memeluk dalam kekurangan.
Saya mulai belajar bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu bicara lebih dulu. Kadang, cukup menjadi telinga yang mendengar. Kadang, cukup menjadi bahu yang tersedia saat seseorang ingin menangis. Dan kadang, cukup dengan hadir dan jujur, itu sudah sangat berarti.
Kini saya memilih untuk terlibat dengan hati yang ringan. Tidak harus selalu tampil, tapi tetap hadir dalam makna. Tidak harus sepakat dengan semua hal, tapi tetap menjaga hormat. Saya ingin organisasi ini menjadi ruang yang aman bagi perempuan dengan suara lantang maupun yang lebih nyaman diam. Bagi mereka yang berani berbeda, maupun mereka yang masih belajar bicara.
Untuk para perempuan yang juga mungkin sedang merasa lelah, izinkan saya berbagi pesan ini: tidak apa-apa untuk merasa jenuh. Tidak apa-apa untuk beristirahat. Kelelahanmu bukan kelemahan. Justru itu pertanda bahwa kamu telah mencintai dengan sepenuh hati.
Ambillah jeda. Temukan ulang tujuanmu. Dan bila kamu siap, kembalilah bukan karena terpaksa, tapi karena kamu sadar bahwa keberadaanmu masih membawa makna.
Karena kita bukan hanya pengurus atau pelaksana program. Kita adalah perempuan yang hidup dengan banyak peran. Kita adalah ibu, pemimpin, dan sahabat. Dan kita berhak untuk lelah, untuk rehat, dan untuk kembali… dengan hati yang utuh.
Leave a Reply