Di Balik Peran CEO: Catatan Seorang yang Masih Belajar

Saat ini saya sedang berhenti dengan sebuah pertanyaan:
apakah saya sudah benar-benar hadir dalam setiap peran yang saya jalani, atau hanya sekadar bertahan?

Menjadi CEO di software house sering kali dipersepsikan sebagai posisi puncak. Padahal bagi saya, ini justru titik di mana tanggung jawab semakin sunyi. Tidak semua keputusan bisa dibagi, dan tidak semua beban bisa diceritakan.

Saya belajar bahwa leadership bukan tentang menjadi yang paling tahu, melainkan tentang menjadi yang paling siap bertanggung jawab ketika keadaan tidak ideal.

Screenshot

Di dunia nyata, CEO tidak selalu hanya bicara visi. Ada hari-hari ketika saya harus turun ke detail teknis, berdiskusi tentang arsitektur sistem, atau sekadar memastikan tim merasa didengar. Bukan karena saya tidak percaya pada tim, tetapi karena kehadiran juga bagian dari kepemimpinan.

Sebagai technopreneur, bagi saya teknologi hanyalah alat. Nilai sebenarnya terletak pada bagaimana teknologi itu memudahkan hidup manusia. Prinsip ini juga yang saya bawa saat mengajar sebagai dosen dan ketika menjalani studi PhD. Saya semakin sadar bahwa semakin banyak yang dipelajari, semakin kecil alasan untuk merasa paling benar.

Menjalani banyak peran mengajarkan saya satu hal penting:
keseimbangan bukan tentang membagi waktu secara sempurna, melainkan tentang kesadaran penuh pada peran yang sedang dijalani.

Saya gak sedang mengejar citra CEO ideal versi buku. Saya hanya berusaha menjadi manusia yang konsisten dengan nilai yang saya percaya. Jika suatu hari jabatan ini berakhir atau merubah fokus dan target hidup , saya berharap yang tertinggal bukan hanya sistem atau produk, tetapi cara memimpin yang tetap manusiawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *