Perjalanan PhD Tidak Selalu Lurus


Tahap persiapan proposal PhD terlihat sederhana di atas kertas, tapi dalam praktiknya, ini adalah salah satu ujian mental paling berat yang pernah dijalani. Pada fase inilah saya belajar bahwa perjalanan akademik tidak hanya menguji kapasitas intelektual, tetapi juga ketahanan mental dan kedewasaan dalam mengambil keputusan.

Bukan karena kurang kemampuan, juga bukan karena tidak serius. Tetapi karena proses ini menuntut kesiapan yang jauh melampaui aspek teknis penelitian.

Saya pernah berada di bawah bimbingan supervisor yang sangat disiplin, tegas, dan kuat secara akademik. Di atas kertas, itu adalah kombinasi ideal. Tapi dalam kenyataannya, gaya bimbingan tersebut justru membuat saya lebih sering merasa tertekan daripada bertumbuh. Saya menyadari bahwa setiap mahasiswa memiliki kebutuhan belajar dan gaya bekerja yang berbeda. Dalam kasus saya, pendekatan yang sangat ketat tersebut membuat proses belajar menjadi terasa berat dan kurang memberi ruang refleksi. Atau bisa jadi karena saya yang tidak mampu menghadapi tekanan standar yang menurut saya perfeksionis seorang supervisor.

Saya merara di setiap diskusi terasa seperti ujian, tiap revisi terasa seperti penghakiman. Dan itu perlahan membuat kepercayaan diri saya sebagai peneliti mulai terkikis.

Saya tidak mengatakan ini salah. Saya juga menyadari satu hal penting bahwa gak semua supervisor cocok untuk semua mahasiswa. Dan menurut saya itu bukan aib. But in this case, It is one hundred percent bukan karena supervisornya, but it’s me.

Dalam prosesnya, saya juga beberapa kali melakukan penyesuaian judul penelitian. Dari luar, ini mungkin tampak seperti ketidakkonsistenan. But for me, setiap perubahan adalah cobaan dalam bentuk pendalaman dan klarifikasi arah riset. Tapi yang paling utama sebenarnya biar selamat dijalan aja dah penelitiannya.

Mengganti judul bukan keputusan ringan. Tentunya membawa konsekuensi waktu, energi, dan emosi. Setiap pergantian selalu datang dengan keraguan, rasa bersalah, dan ketakutan akan penilaian orang lain. Namun di situlah saya belajar bahwa kejelasan arah jauh lebih penting daripada sekadar bertahan pada pilihan awal

Sampai akhirnya saya mengambil keputusan yang paling sulit dalam perjalanan PhD saya: mengganti supervisor.

Keputusan ini tidak datang dengan tepuk tangan. Keputusan ini saya ambil dengan pertimbangan matang, campur aduk keresahan kegalauan berkepanjangan, diskusi internal dengan orang dan teman terdekat, dan kesadaran penuh terhadap konsekuensi akademik maupun sosial yang mungkin muncul, gak semua orang paham, ada yang tidak suka, ada yang kecewa. atau mungkin menjadikan objek bahan pembicaraan.

Saya sadar betul akan konsekuensinya. Dalam dunia akademik, keputusan seperti ini sering dianggap tabu, berisiko, bahkan dicap sebagai contoh yang buruk, tidak disukai, dijadikan bahan lelucon atau gibahan. But this is my life and I have to stay alive.

Kemudian saya disadarkan oleh salah satu ‘pensyarah fav’ saya bahwa PhD adalah perjalanan jangka panjang, dan tidak bisa dijalani dengan mental yang terus-menerus tertekan dan pasti akan ada konsekuensinya setiap keputusan yang diambil. Saya mau hidup normal disamping banyak tanggungjawab yang harus saya jalani. Keputusan ini bukan bentuk penolakan terhadap disiplin, melainkan upaya mencari lingkungan bimbingan yang memungkinkan saya berkembang secara optimal sebagai student Phd.

Akhirnya dengan supervisor baru yang lebih soft, dialogis, dan memberi ruang berpikir, saya mulai menemukan kembali diri saya sebagai peneliti. Bukan berarti tantangannya hilang. Justru tuntutan akademik tetap tinggi, tapi disampaikan dengan cara yang lebih membangun, sehingga memberi ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan bertumbuh.

Di titik inilah saya akhirnya bisa:

  • menata ulang fokus riset,
  • memantapkan judul,
  • dan menyelesaikan proposal tesis PhD saya.

Bukan karena jalannya lebih mudah, tapi karena saya kembali bisa bernapas dan berpikir jernih.

Jika ada satu pelajaran penting dari fase ini, maka itu adalah:
PhD bukan hanya tentang kecerdasan, siapa paling pintar akademik tetapi tentang ketahanan mental, kejujuran pada diri sendiri, dan keberanian mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya.

Kadang kita harus memilih jalan yang tidak populer. Kadang kita harus siap tidak disukai. Tapi selama keputusan itu diambil dengan sadar, bertanggung jawab, dan untuk keberlangsungan diri kita sendiri, itu adalah keputusan yang layak dihormati.

Saya tidak menulis ini untuk membenarkan diri. Saya menulis ini agar siapa pun yang sedang berada di fase gelap persiapan proposal tahu satu hal: kamu tidak sendirian.

Perjalanan ini memang berat. Tapi jika dijalani dengan keberanian, kejujuran pada diri sendiri, dan nilai yang jelas, selalu ada jalan untuk melanjutkan.

Hari ini, saya melanjutkan perjalanan PhD saya bukan sebagai mahasiswa yang paling cepat atau paling sempurna, tetapi sebagai pribadi yang mampu bertahan, bisa belajar mengambil keputusan dengan sadar, menjaga nilai, dan tetap manusiawi dalam setiap peran yang dijalani.

Dan bagi saya, inilah esensi bertumbuh yang sesungguhnya


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *