Di fase tertentu dalam hidup, saya belajar bahwa tidak semua jeda adalah kemunduran.
Ada saat-saat ketika seseorang hanya perlu berhenti sebentar, bukan karena lelah berjalan, tetapi karena memang ingin memastikan arah yang sedang ditempuh masih selaras dengan dirinya sendiri.
Setelah melewati banyak dinamika, target, dan tuntutan, baik dalam studi, pekerjaan, maupun peran sosial, saya akhirnya sadar bahwa produktivitas yang terus-menerus kadang membuat kita lupa mendengar suara paling dasar: suara dari dalam diri.
Saya pernah berada di titik di mana segalanya berjalan, tapi terasa hampa dan tanpa rasa.
Bukan karena tidak ada yang bisa disyukuri, melainkan karena terlalu lama berlari tanpa memberi ruang untuk “merasa”. Di tengah padat kesibukan, saya berhenti dengan duduk diam, bertanya: apakah aku masih menikmati perjalanan ini, atau hanya sekedar terbiasa menjalaninya?
Perasaan seperti ini sering kali datang tiba-tiba, tanpa aba-aba.
Gak dramatis, gak juga tragis. Cuma rasa asing yang pelan-pelan datang nyelinap, tapi juga gak sepenuhnya hadir, meski raga ini sering ada di banyak tempat dan pikiran sibuk dengan banyak target.
Saya percaya, fase ini bukan tanda dari kelemahan.
Ini adalah bentuk kesadaran. Sebuah undangan halus untuk berhenti sebentar, menarik napas lebih dalam, dan mengakui bahwa jadi manusia berarti juga boleh merasa tidak selalu kuat.
Saat ini saya tidak sedang mencari jawaban besar.
Cuma belajar menerima bahwa ada hari-hari ketika motivasi menurun, dan keinginan untuk menyendiri lebih besar daripada keinginan untuk berbagi cerita. Dan itu tidak apa-apa.
Dalam dunia yang gemar merayakan pencapaian dan dipamerkan, kita sering lupa bahwa refleksi juga sebuah bentuk kemajuan. Duduk sebentar di tengah sawah yang luas, dipinggir sungai, dipinggir jalan melihat apa yang sudah ditanam, apa yang tumbuh, apa yang lewat dan apa yang mungkin perlu waktu lebih lama adalah bagian dari proses bertumbuh dan bergerak.

Hari ini, saya memilih untuk tidak memaksa diri selalu terlihat baik-baik saja.
Saya memberi ruang untuk perasaan lewat, tanpa harus memberi label apa pun. Karena saya tahu, fase ini pun akan berlalu, sebagaimana fase-fase lain sebelumnya.
Dan ketika saatnya tiba untuk melangkah lagi, saya ingin melangkah dengan kesadaran penuh, bukan karena harus, tetapi karena sudah siap.
Untuk siapa pun yang sedang berada di titik serupa:
Gak apa-apa duduk sebentar.
Juga tak mengapa merasa biasa saja.
Tidak apa-apa mengambil napas, sebelum kembali berjalan dan berlari.
Leave a Reply